Berdiri untuk menghormati seseorang sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara, saat bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, seluruh peserta upacara pun diharuskan berdiri. Tujuannya, tidak lain, untuk menghormati simbol negara itudan untuk menghormati para pejuang bangsa.
Demikian juga dengan berdiri ketia dibacakan kisah detik-detik kelahiran Rasulullah SAW. Ulama menyebutkan dengan istilah MAHALLUL QIYAM, waktunya berdiri.
Berdiri pada saat itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada nabi Muhammad SAW. sebagai hamba Alllah yang paling mulya, dan ekspresi kegembiraan atas kehadiran beliau di atas mukabumi.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyatakan, Imam Al-Barzanji di dalam kitab maulidnta yang berbentuk prosa menyatakan, "Sebagian para imam hadits yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika dsebutkan sejarah nabi Muhammad SAW. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan nabi dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya. (Al-Bayan wa at-Ta'rif fi Dzikr al-Maulid an-Nabawi, hlm. 29-30).
Tentu saja, sebab Rasulullah SAW. adalah pribadi yang paling utama untukdihormati.
Dalam sebuah hadits dari Abi Sa'id Al-Khudri RA. ia brkata, Rasululah SAW. bersabda kepada para sahabat Anshar, "Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian." (HR. Muslim).
Sayangnya, ada sebagian orang yang menganggap bid'ah terhadap mahallul qiyam. Lha, kalau kepada lagu Indonesia Raya saja, misalnya , kita memberi hormat, masa memberi hormat kepada makhluk yang paling mulia di alam semesta ini dianggap bid'ah?.
(DIAMBIL DARI MAJALAH ALKISAH).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar